Mahasiswa di Era 4.0 Menuju 5.0: Mengapa Organisasi Mahasiswa Masih Penting

Menjadi mahasiswa sering kali dimaknai secara sederhana: datang kuliah, mengerjakan tugas, lalu pulang. Pola ini tidak salah, tetapi menurut saya, belum cukup. Kampus bukan hanya ruang akademik, melainkan tempat pembentukan cara berpikir, bersikap, dan bertanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

Pengalaman saya berinteraksi dengan sesama mahasiswa menunjukkan bahwa mereka yang aktif berorganisasi cenderung memiliki cara pandang yang lebih luas. Bukan karena mereka lebih pintar secara akademik, tetapi karena terbiasa berhadapan dengan perbedaan, persoalan nyata, dan dinamika sosial yang tidak selalu ideal.

Organisasi mahasiswa sering dipandang sebagai aktivitas tambahan yang melelahkan dan berisiko mengganggu prestasi akademik. Kekhawatiran ini wajar. Namun, jika dikelola dengan kesadaran dan tanggung jawab, organisasi justru menjadi ruang belajar yang tidak disediakan dalam kurikulum.

Perkembangan teknologi digital di era Industri 4.0 yang mengarah pada Society 5.0 menuntut mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan adaptasi sosial. Dalam konteks ini, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi mahasiswa dinilai masih relevan sebagai bagian penting dari proses pendidikan tinggi.

Era 4.0 ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan otomatisasi. Namun, dalam transisi menuju Society 5.0, manusia tetap ditempatkan sebagai pusat pemanfaatan teknologi. Artinya, kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan mengambil keputusan secara etis menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan. Sejumlah kalangan menilai keterampilan tersebut tidak sepenuhnya terbentuk di ruang kelas, melainkan melalui pengalaman langsung di luar akademik, salah satunya lewat organisasi mahasiswa.

Organisasi mahasiswa menjadi ruang belajar nonformal yang melatih mahasiswa menghadapi dinamika nyata. Melalui diskusi, rapat, dan pelaksanaan program, mahasiswa belajar menyampaikan gagasan, mengelola perbedaan, serta bertanggung jawab atas keputusan bersama. Pengalaman ini sejalan dengan kebutuhan sumber daya manusia di era 5.0 yang menuntut keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan kualitas sosial manusia.

Di tengah fokus mahasiswa pada pencapaian akademik dan percepatan kelulusan, minat berorganisasi di sejumlah perguruan tinggi disebut mulai menurun. Padahal, dunia kerja kini tidak hanya menilai lulusan dari indeks prestasi kumulatif (IPK), tetapi juga dari kemampuan kerja tim, kepemimpinan, dan inisiatif.

Organisasi Mahasiswa dan Jejak Kepemimpinan Nasional

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa memiliki peran penting dalam membentuk kepemimpinan nasional. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, dikenal aktif berorganisasi sejak masa mudanya. Pengalaman tersebut kerap disebut membentuk kemampuan kepemimpinannya, baik di dunia usaha maupun pemerintahan.

Tokoh lain yang memiliki latar belakang kuat dalam organisasi mahasiswa adalah Akbar Tandjung. Ia dikenal aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak masa kuliah. Pengalaman berorganisasi tersebut membentuk keterampilan komunikasi, kepemimpinan, serta jejaring nasional yang kemudian berperan dalam perjalanan kariernya hingga menjadi Ketua DPR RI dan tokoh politik nasional.

Meski berasal dari latar dan generasi yang berbeda, Jusuf Kalla dan Akbar Tandjung menunjukkan kesamaan, yakni pengalaman organisasi menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, daya tahan kepemimpinan, dan kemampuan mengambil keputusan di ruang publik.

Relevansi Organisasi di Era Teknologi

Dalam transisi menuju Society 5.0, teknologi berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Oleh karena itu, kemampuan berkolaborasi lintas disiplin menjadi kunci. Organisasi mahasiswa dinilai sebagai ruang awal untuk melatih kolaborasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah secara kolektif.

Selain itu, organisasi juga membantu mahasiswa mengembangkan kepekaan sosial dan etika di tengah arus informasi digital yang cepat. Pengalaman berorganisasi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dinilai menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan sosial di era teknologi.

Sejumlah pihak menekankan pentingnya keseimbangan antara akademik dan organisasi. Keduanya dipandang tidak saling meniadakan, melainkan melengkapi sebagai bagian dari proses pendidikan yang menyeluruh.

Investasi Jangka Panjang Mahasiswa

Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi kampus dinilai sebagai investasi jangka panjang. Organisasi bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan ruang pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi masa depan.

Dengan demikian, organisasi mahasiswa tetap relevan sebagai sarana menyiapkan generasi muda yang adaptif, berdaya saing, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan di era 4.0 menuju Society 5.0.



Penulis: Fitri Amelia, Ketua Umum HMI Komisariat Hukum yang gemar membaca dan diskusi serta Ketua Umum perempuan pertama kali di Komisariat Hukum UMM.

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama