Ide Pokok : Bangsat!!! Alter Ego di dalam diri, bisa bangkit di Arena Basic Training HMI

Manusia pada umumnya mengukur kekuatannya hanya pada batas zona nyaman. Padahal, dalam sejarah peradaban lampau menunjukkan hal yang sebaliknya. Dalam tradisi Yunani Kuno, dikenal konsep Alter Ego atau sisi lain dalam diri yang hanya akan aktif ketika keadaan seseorang dalam keadaan tertekan. Bukan sesuatu yang lahir dari kepribadian ganda, tetapi potensi yang menunggu momentum untuk bangkit.

Dalam lingkup mahasiswa, zona nyaman sering kali menjadi penghambat tumbuhnya kemampuan baru. Ketika menjalani kehidupan tanpa tekanan, potensi hanya berhenti di angan – angan kemungkinan. Latihan Penyelesaian Konflik, dan Tekanan sangat memiliki peran penting. Bukan sebagai alat penindasan, melainkan pembentukan karakter. Alter Ego tidak bangkit dari kemewahan dan kenyamanan, tetapi dari proses bertahan dan melawan.

Seperti dalam Arena Basic Training Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) organisasi yang merupakan wadah untuk membangkitkan potensi terpendam para kader. Berbagai agenda telah dirancang oleh Master of Training (MOT) bukan sebuah ajang balas dendam dalam organisasi, tapi sebuah cara alami dalam kaderisasi yang membuat peserta keluar dari zona nyaman. Kurangnya waktu tidur, jadwal kegiatan padat, dan makan yang jauh dari kata enak menjadi bagian dari output yang diharapkan para MOT. Tubuh para calon kader harus tetap bergerak, pikiran harus tetap fokus pada materi walapun kurang tidur, dan rasa emosi seperti diuji. Dikondisi inilah yang membuat para peserta basic training bertanya dengan dirinya: “ingin Menyerah Pulang Kerumah atau Tetap Bertahan dan Menjadi Kader Militan?”. Saat memutuskan untuk tetap bertahan, tiba – tiba Alter Ego dalam diri ini muncul untuk melawan rasa ragu, takut, dan Lelah, yang membuat para calon kader menjadi tetap fokus sehingga semakin yakin atas pilihan yang diambil.

Perlu di ketahui bahwa bangkitnya Alter Ego di Arena Basic Training tidak untuk menghilangkan identitas asli para kader. Justru pengkaderan malah akan menajamkan kemampuan intelektualitas kader dan tetap memegang kendali atas dirinya dengan kesiapan mental yang lebih baik dari sebelumnya. Ia berguna sebagai kekuatan cadangan yang digunakan untuk mengekspresikan keberanian, ketangguhan sikap, dan daya juang yang tenang dalam menghadapi tekanan sosial.

Di dalam organisasi HMI, para kader tidak diperhitungkan dari kuantitas, melainkan dari kualitas sehingga menuntut para kader untuk menjadi intelektual yang memiliki keberanian berpikir dan bertindak. Intelektualitas tanpa mentalitas akan rapuh, sementara militansi tanpa kesadaran akan kehilangan arah. Di sinilah keterhubungan dengan Alter Ego menjadi nyata: sebagai jembatan antara nalar dan keberanian. Sejak HMI berdiri pada 1947 kaderisasi selalu menjadi ujung tombak utama pembentukan manusia pembelajar. 

Kaderisasi di HMI mengajarkan bahwa pikiran setiap manusia lebih sempit daripada kapasitas sebenarnya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Najm Ayat 39, “Bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” maka dengan munculnya Alter Ego adalah konsekuensi logis dari kesungguhan dalam berproses. YAKUSA !


Penulis: Muhammad Rafiq, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Dharma Wacana, dan peserta Kelas Menulis LAPMI.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama