Tinta Di Ujung Pulpen


    Ketika sebuah tinta menggores kertas, di situlah pekerjaan dimulai. Demikian manusia bekerja. Tanpa kita sadari, setiap hari kita pun sedang membuat “goresan-goresan” kecil melalui apa yang kita lakukan.

    Sekilas, goresan itu tampak sepele, hanya garis kecil yang membentuk huruf demi huruf. Namun dari situlah pikiran disampaikan dan gagasan menjadi nyata. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari: banyak hal besar berawal dari langkah kecil yang sering kita abaikan. Jika dipikirkan kembali, mungkin kita juga pernah meremehkan tugas kecil karena merasa itu tidak terlalu penting.

    Berbeda dengan pulpen yang hanya mengikuti arah tangan, manusia punya pilihan dalam setiap tindakan. Kita bisa mengerjakan sesuatu sekadar supaya selesai, atau benar-benar memahami apa yang sedang dilakukan. Di kalangan mahasiswa, misalnya, tugas kadang dipandang hanya sebagai beban. Kalau jujur pada diri sendiri, kita pun mungkin pernah mengerjakan sesuatu hanya agar cepat selesai, bukan karena ingin belajar darinya.

    Tanpa disadari, kebiasaan bekerja asal selesai dapat terbawa sampai ke dunia kerja. 
Orang menjadi terbiasa mengejar banyaknya pekerjaan, bukan mutu hasilnya. Padahal satu pekerjaan yang dikerjakan dengan teliti sering kali lebih bernilai daripada beberapa pekerjaan yang diselesaikan secara terburu-buru. Coba bayangkan, berapa kali kita menyesal karena melakukan sesuatu tanpa cukup pertimbangan.

    Dari tinta di ujung pulpen, kita bisa belajar bahwa setiap goresan meninggalkan jejak. Begitu juga dengan setiap tugas dan tanggung jawab yang kita jalani. Karena itu, bekerja seharusnya bukan sekadar soal menyelesaikan, tetapi tentang memberi arti pada apa yang kita lakukan. Pada akhirnya, waktu yang akan “membaca” semua itu, dan mungkin kitalah yang suatu hari nanti akan mempertanyakan kembali apa saja yang pernah kita tulis dalam hidup ini.

Penulis : Arda Fernanda, Ketua PRESMA Universitas Dharma Wacana.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama